Rabu, 19 November 2014

JENDRAL ABDUL HARIS NASUTION




JENDERAL A YANI


SOEHARTO - WAKIL PANGLIMA KOMANDO MANDALA SIAGA ( WaPANG KOGA )

BIOGRAFI JENDRAL SOEHARTO

( Masa Kecil )




Presiden Soeharto, Presiden ke-2 RI, lahir pada tanggl 8 Juni 1921, di desa Kemusuk daerah Argomulyo Godean, sebelah Barat Yogyakarta. Merupakan putra ketiga dari istri pertama (Nyonya Sukirah) dari Bapak  Kartosudiro, seorang ulu-ulu atau petugas pengatur air di desa Kemusuk. Masa kecilnya dihabiskan sebagaimana layaknya anak-anak pedesaan Jawa. Sebagai anak desa, ia tumbuh tidak dalam suasana kemegahan sebagaimana kalangan bangsawan. Pernah suatu ketika di ejek teman-temannya dengan sebutan “Den Bagus tahi mabul” (tahi kering).


Berpindah-Pindah Sekolah

Agar memperoleh sentuhan pendidikan secara lebih baik, usia 8 tahun ia dititipkan oleh ayahnya kepada adik perempuan satu-satunya yang berdomisili di Wuryantoro Wonogiri. Suatu daerah sebelah timur Yogyakarta yang secara sosio-ekonomi tidak lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Godean. Hanya saja bibinya bersuamikan mantri tani, Bapak Prawirowihardjo dan disinilah ia memperoleh pendidikan lebih baik daripada yang diperolehnya di Kemusuk. Belum satu tahun tinggal di Wonogiri, Soeharto kecil dijemput untuk pulang ke Kemusuk karena dirindukan oleh Ibunya. Setahun kemudian ia baru dijemput keluarga Prawirowihardjo untuk menetap lagi dan melanjutkan sekolah di Wuryantoro Wonogiri.


Setelah menamatkan sekolah rendah lima tahun, ia dimasukkan sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia terpaksa pindah rumah ke Selogiri, 6 kilometer dari Wonogiri dan tinggal di rumah Citratani, kakak perempuan yang menikah dengan pegawai pertanian. Saat usia menginjak 14 tahun , ia baru di khitan (sunat), dan dirayakan dengan selamatan (tasyakuran) secara sederhana.
Kehidupan keluarga Citratani retak, sehingga ia terpaksa pindah ke Wonogiri lagi dan tinggal di keluarga Bapak Hardjowiyono, teman ayahnya, seorang pensiunan pegawai Kereta Api. Keluarga ini tidak punya anak. Di tempat ini, Soeharto kecil biasa membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah, dan pergi ke pasar untuk belanja ataupun menjualkan hasil kerajinan tangan buatan Bu Hardjo. Melalui keluarga ini pula, Soeharto kecil bersentuhan dengan Kyai Daryatmo, sosok kyai sufistik yang tidak hanya memiliki penguasaan ilmu agama sangat luas, akan tetapi juga merupakan seorang tabib (menguasai ilmu pengobatan) dan psikolog sekaligus guru masyarakat. Kediaman Kyai Daryatmo tidak berjauhan dengan kediaman Bapak Hardjowiyono dan di langgar (mushola) Kyai inilah, Soeharto kecil belajar agama. Ia juga sering mendengarkan nasehat-nasehat Kyai Daryatmo kepada mereka yang banyak datang memerlukan, orang-orang terpelajar, pedagang, pegawai, petani sampau bakul-bakul (pedagang kecil).
Keceriaan tinggal di keluarga ini harus terputus dan Soeharto kecil harus kembali ke Kemusuk untuk melanjutkan sekolah Muhammadiyah yang dijalaninya setiap hari dengan naik sepeda dari Kemusuk ke Yogyakarta. Ia terpaksa meninggalkan keluarga Hardjowiyono dan langgar (mushola) Kyai Daryatmo karena ada peraturan sekolah yang mengharuskan murid pakai celana pendek dan bersepatu, sedang orang tuanya tidak sanggup membelikan. Walaupun di kota, di Yogya ia bisa bersekolah dengan memakai sarung atau kain. Ia tidak kikuk, karena ada murid lain yang ke sekolah dengan pakaian seperti dirinya. Pada saat di Yogya inilah ia mulai mendengar gerakan-gerakan menentang penjajahan yang digerakkan oleh tokoh-tokoh politik. Ia tetap saja fokus pada pelajaran dan pada tahun 1939 (usia 18 tahun) ia berhasil menamatkan sekolah di schakel Muhammadiyah Yogyakarta.

Mengadu Nasib

Setelah tamat ia justru dihadapkan kesulitan baru, karena ayahnya maupun anggota keluarga ayahnya yang lain tidak ada yang sanggup membiayainya melanjutkan sekolah. Ia masih ingat kata-kata ayahnya saat itu. “Nak… tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri”. Ia kesana kemari mencari pekerjaan. Pada waktu itu tidak gampang mendapatkannya tanpa uluran tangan orang yang berkedudukan, berpengaruh, orang kaya ataupun pengusaha besar. Setelah kesana kemari tidak berhasil, ia pergi ke Wuryantoro, karena di tempat ini banyak kenalan.
Sampai suatu ketika ia memperoleh pekerjaan sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks Bank). Ia mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, dengan kain blankon dan baju beskap. Di kantor-kantor lurah ia membantu klerek menampung permintan para petani, pedagang kecil dan para pemilik warung yang menginginkan pinjaman. Disinilah ia belajar pembukuan dan dalam dua bulan pembukuan itu dikuasainya. Bahkan Mantri Bank Desa mengakui jika otak Soeharto kecil encer. Tapi takdir tidak selalu sejalan apa yang direncanakan oleh setiap orang, begitu pula dengan apa yang dialami Soeharto kecil. Suatu ketika, saat turun dari sepeda yang sudah reot, kain yang dipakainya tersangkut pada per sadel yang menonjol keluar dan sobeklah kain yang dipakainya. Ia dicela klerek yang didampinginya dan juga dimarahi Bibinya. Ia dibentak Bibinya dan dikatakan kalau itu satu-satunya kain yang baik dan tidak ada kain lain yang bisa diberikan kepadanya. Peristiwa itu mengantarkannya kembali menjadi pengangguran dari pekerjaan yang sudah dengan susah payah didapatkannya. Ia mencoba mengadu nasib ke Solo, tapi tidak juga mendapatkan pekerjaan. Ia kembali ke Wuryantoro Wonogiri dan hari-harinya diisi dengan kegiatan gotong royong, membangun sebuah langgar (mushola), menggali parit dan membereskan lumbung.

Masuk Pendidikan Militer

Tangga karier Soeharto remaja mulai terbuka ketika ada pengumuman dibuka pendataran masuk KNIL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Ia diterima masuk Kortverband di Gombong. Merupakan dinas pendek yang latihannya mirip milisi, dalam waktu 3 tahun. Ia lulus terbaik dan ditugaskan praktek menjadi wakil Komandan Regu di Batalyon XIII Rampal Malang. Ia juga praktek jaga malam di pantai pertahanan di Gresik selama dua minggu, tapi malang nasibnya ia diserang Malaria. Penyakitnya itu kambuh lagi ketika di Malang dan memaksanya dirawat di rumah sakit. Setelah keluar rumah sakit ia ikut ujian masuk Sekoilah Kader di Gombong untuk mendapatkan pangkat sersan. Setelah selesai mengikuti pendidikan dan mendapatkan pangkat sersan, ia dikirm ke Bandung, dijadikan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat dan ditempatkan di Cisarua.
Garis takdir menentukan lain, setelah dua minggu penempatan, Balanda menyerah pada Jepang. Tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai menguasai Hindia Belanda. Dalam suasana penuh ketidakpastian atas kemungkinan penangkapan oleh Jepang, dengan berbekal uang satu gulden, ia main kartu cemeh dan kertu londo. Uangnya bertambah menjadi 50 gulden dan ia gunakan bekal pulang kampung bersama seorang temannya, Amat Sudono, naik kereta dari Cimahi menuju Yogyakarta. Dari Yogya ia kembali ke Wuryantoro dan harus berbaring selama enam bulan oleh serangan Malaria.
Sementara Jepang sudah membentuk lembaga-lembaga keamanan mulai dari Karisidenan hingga kampung-kampung, seperti Keibodan dan Seinendan. Wanita-wanita dikerahkan melalui Fujin Kei. Kenco atau Bupati dibentuk tanpa menurut kebiasaan lama yang bertumpu pada garis keturunan sebagaimana jaman Belanda. Begitu pula dengan pengangkatan pamongpraja. Romusha juga dibentuk sebagai Badan Pengerahan Pekerja Paksa. Tenaga-tenaga itu dipakai untuk membangun dobuku (dam irigasi) di pelbagai tempat di Jawa, namun juga dikirim ke Birma untuk membangun jalan sesuai kebutuhan Jepang. Pengibaran bendera Merah-Putih yang semula diijinkan segera dilarang da diganti bendera Jepang, Hinomaru. Begitu pula dengan lagu Indonesia Raya digantinya dengan Kimigayo. Setelah mulai sembuh, Soeharto muda mulai lagi mencari pekerjaan dan mengadu nasib di Yogya.

Masuk Peta

Pantang menyerah merupakan salah satu ciri kas pemuda desa yang kelak memimpin Indonesia ini. Soeharto muda ikut kursus mengetik dan juga sakitnya kambuh ketika mengadu nasib di Yogyakarta ini hingga suatu ketika ada penerimaan keanggotan Keibuho, Polisi Jepang di Indonesia. Ia diterima dan bahkan lulus latihan dengan predikat terbaik. Kepala Polisi Opsir Jepang bahkan menyuruhnya Belajar Bahasa Jepang dan menganjurkannya mendaftarkan menjadi tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air). Ia diterima dan dilatih sebagai Shodancho, komandan peleton. Disini ia memperoleh tempaan keras khas Jepang dengan titik berat pada penguasaan taktik kesatuan kecil, peleton atau seksi. Selesai pelatihan ia ditempatkan di Batalyon di Wates Yogyakarta, pos pertahanan di Glagah di pantai selatan Yogyakarta, Solo dan Madiun.
Nasib baik memayungi Soeharto muda ini karena segera terpilih menjadi untuk mengikuti pelatihan Chudancho (komandan kompi), untuk mempelajari taktik dan strategi perang. Selesai latihan ia di tempatkan di Seibu, markas besar Peta di Solo, di Kusumoyudan. Setelah itu ia di tugaskan Jaga Monyet (nama asrama Tentara) Jakarta, untuk melatih siswa STM menjadi tentara zeni. Kemudian dipindah lagi Markas Besar PETA yang sudah pindah ke Madiun. Ia berhasil lolos dari pembersihan akibat pemberontakan PETA di Blitar dan masih dipertahankan Jepang untuk kemudian ditempatkan di kaki Gunung Wilis di desa Brebeg selatan Madiun melatih prajurit PETA. Kini pemuda yang masa lalu sokolahnya berpindah-pindah dan kesulitan mencari pekerjaan itu telah mengenal dua tradisi kemiliteran (Belanda dan Jepang) yang sangat berpengaruh dalam menopang karirnya kelak dikemudian hari.
***

 

DI MASA DWIKORA



Pada tanggal 1 Mei 1963, saya diangkat menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan kembalilah saya dengan kesibukan rutin.

Jend Soeharto & Komodor Leo Wattimena dalam Brifinf Oprasi TRIKORA


Sementara itu, situasi politik di dalam negeri tambah tidak menentu. PKI menggusur-gusur partai-partai dan ormas-ormas lainnya dengan menyatakan dirinya yang paling revolosuiner, sedang yang lain, yang menentangnya ditunjuknya sebagai “kontra revolusi”. Sedikit-sedikit tuduhan “kontra revolusi” itu terdengar dan telunjuk ditudingkan kepada pihak-pihak yang tidak mau diseret oleh PKI atau yang menentangnya. PKI meneriakkan “Yang tidak bersama kita adalah musuh kita”. Maksudnya, yang tidak mengikuti langkah PKI adalah lawannya”.

Jend Soeharto & R.E. Martadinata

PKI terus mengipas-ngipas Bung Karno. Dan orang-orang yang ada di sekitar Presiden itu tidak ada yang berani menyampaikan pendapat mereka yang berlainan.
Gambaran politik waktu itu sudah jelas: adanya perselisihan yang tajam antara Angkatan Darat, golongan Islam yang anti komunis dan golongan nasionalis yang anti komunis di satu pihak, dengan apa yang dinamakan golongan “progresif revolusioner” alias PKI dan yang bisa disertakan dengan PKI di pihak lainnya.
Sementara itu saya sering risau karena didatangi anak buah yang meminta pendapat dan penilaian saya. Juga mereka menunjukkan tarikan muka seperti mendesak, ingin mendapat keterangan mengapa saya diam. Saya jawab, “Saya tidak buta. Saya telah melapor kepada atasan tentang keadaan. Situasi memang serius. Tetapi saya tidak mendapat reaksi apa-apa. Apa lagi dapat saya lakukan lebih dari itu ?”
Keadaan memang menekan sementara suasana terasa pengap. Sampai-sampai pasa suatu ketika saya berfikir selintas untuk berhenti saja dari kedinasan dan pindah tempat kerja, menjadi supir taksi atau menjadi petani. Dalam setengah gurau, pernah saya ceritakan pikiran selintas ini kepada teman. Tapi sahabat saya itu Cuma menyambung senyum saya dengan tertawa, lalu membelokkan percakapan kami kepada soal-soal yang ringan.
Tanggal 16 September 1963 terbentuklah Federasi Malaysia.
Presiden Soekarno yang sebelumnya telah membuat langkah-langkah menghalang-halangi lahirnya negara bentukan baru itu, sangat marah dengan kejadian ini dan menilainya sebagai suatu pelanggaran terhadap kesepakatan yang sudah ditetapkan terdahulu. Presiden Soekarno menganggap “Malaysia” ini sebagai proyek neokolonialisme Inggris.
Berkenaan dengan itu kita patut menengok ke belakang.
Pada tahun 1962, terjadi pemberontakan anti Malaysia di Brunei. Bung Karno melihat, pemberontakan itu patut didukung. Pendiriannya berkenaan dengan ini adalah bahwa “Indonesia selalu berjuang untuk membela hak penentuan nasib sendiri dari semua bangsa di dunia”
Katanya lagi, “Gerilyawan dari Indonesia menyokong pemberontakan di Brunei itu. Brunei telah menyokong revolusi Indoensia di masa yang lalu dengan sukarelawan, makanan, dan uang. Perdana Menteri dari pemerintahan pemberontakan itu, Azhari, pernah jadi kapten pada TNI”.
Dalam proses ke arah pembentukan “Malaysia” itu pernah dilaksanakan pertemuan-pertemuan puncak pemerintah Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Presiden Soekarno pernah berunding dengan Tengku Abdul Rachman Putera di Tokyo, di bulan Juni 1963.
Sebentar reda suhu politik berkenaan dengan rencana pembentukan “Malaysia” itu. Tetapi kemudian Bung Karno berteriak lagi karena PM Tengku Abdul Rachman menandatangani dokumen mengenai pembentukan Federasi Malaysia satu bulan lebih setelah pertemuan mereka berdua di Tokyo itu. Bung Karno menunjukkan kekesalannya, dengan menyebutkan di depan umum, bahwa “Pemerintah Indonesia telah dikentuti”. Bung Karno kelihatan ngambek benar terhadap Tengku, karena ingat juga, bahwa Tengku adalah seorang yang telah membantu pemberontakan-pemberontakan yang melawan Bung Karno dengan membiarkan mereka tinggal dan berkeliaran di Malaya.
Maphilindo”, yakni Malaysia, Filipina, dan Indonesia, terdengar seolah-olah akan menyelesaikan persoalan. Tetapi ternyata tidak mampu.
Sementara itu persoalan “Malaysia” ini sudah berada di tangan PBB.
Diplomasi terus berjalan.m Pertemuan puncak dari tiga kepala negara, Malaya, Filipina dan Indonesia dilangsungkan pada akhir Juli 1963 di Manila.
Pertemuan manila itu menghasilkan tiga dokumen yang antara lain menyebutkan, bahwa ketiga kepala negara yang berunding mufakat untuk meminta Sekjen PBB menyelidiki keinginan rakyat di daerah-daerah yang akan dimaksukkan ke dalam Federasi Malaysia itu. Indonesia dan Filipina menyambut baik bilamana keinginan rakyat telah diselidiki oleh suatu otoritas yang bebas dan tidak memihak, yaitu Sekjen PBB atau wakilnya.
Sepulang dari Manila, Bung Karno bukan menjadi cerah dan gembira. Tanggapan mengenai “Malaysia” itu malahan mendorongnya supaya Indonesia lebih siaga. Tentunya pelbagai informasi mengenai masalah ini masuk kepadanya dari pelbagai jurusan, diantaranya dari PKI yang waktu itu sedang giat-giatnya menjalankan programnya, antara lain dengan rencananya untuk membentuk “Angkatan ke-V” yang kami tolak”.
Semula pembentukan Federasi Malaysia itu akan dilakukan pada tanggal 31 Agustus 1963 di London. Tapi kemudian rencana itu diundur. Dan kenyataan membuktikan, bahwa pada tanggal 16 September 1963, walaupun misi PBB belum menyampaikan hasil laporan penyelidikannya mengenai kehendak rakyat di daerah-daerah yang akan dimasukkan ke dalam yang disebut Malaysia itu, pembentukan Malaysia tetap dilaksanakan.
Maka demonstrasi pun terjadi di Kuala Lumpur terhadap Kedutaan Besar RI dan begitu juga di Jakarta terhadap Kedutaan Besar Malaysia dan Inggris.
Sudah bisa diramalkan sebelumnya, bahwa hal itu akan terjadi. Dan kenyataan menunjukkan lebih lagi. Sebab kemudian, pada tanggal 17 September 1963 Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintahan Kuala Lumpur.
Berkorbarlah api yang disulut sewaktu Presiden Soekarno menyerukan Komando Pengganyangan Malaysia yang dikenal dengan Dwi-Komando-Rakyat atau singkatannya “Dwikora”, dalam sebuah apel besar Sukarelawan di Jakarta 3 Mei 1964. “Dwikora” itu menetapkan: perhebat ketahanan Revolusi Indonesia dan bantu perjuangan Revolusioner rakyat Serawak dengan menggagalkan pembentukan negara boneka Malaysia.
Situasi terasa amat berbahaya. Di wajtu-waktu yang meresahkan ini lahir anak kami yang keenam, seorang perempuan, yang kami beri nama Siti Hutami Endang Adiningsih. Kelahirannya pada tanggal 23 Agustus 1964 melewati operasi. Hari kelahiran istri saya tanggal 23 Agustus 1923. Jadi pada ulang tahunnya yang ke 41, hadiahnya operasi melahirkan anak kami yang keenam. Ceritanya aneh tapi nyata. Pada waktu istri saya mengandung tua, saya mengikuti latihan terjun payung. Rupanya ada yang memberi tahu bahwa latihan terjun payung itu berat, jungkir-balik, bisa menyangku di pohon, dan lain sebagainya. Ternyata berita itu berpengaruh pada istri saya dan bayi yang dikandungnya. Letak bayi sungsang. Dokter telah berusaha membetulkan, tetapi kembali lagi sungsang. Untuk keselamatan ibu dan bayi. Dokter memutuskan operasi. Setelah operasi berhasil, saya masih sempat menyelesaikan latihan terjun payung karena tinggal terjun terakhir, ialah pada malam hari. Semua latihan terjun dapat saya ikuti dan dinyatakan lulus. Sebagai Panglima Kostrad, dengan selesainya latihan terjun itu, saya dapat mengetahui dan merasakan suka duka pasukan payung . Saya lebih siap menghadapi kemungkinan. Suasana konfrontasi dengan Malaysia makin panas.
*
Maka dibentuklah komando dalam rangka Dwikora itu. Panglimanya dipilih Omar Dhani. Rupanya mereka punya keyakinan bahwa yang bisa memimpin perang bukan hanya Angkatan Darat, tetapi juga angkatan lainnya. Karena itulah, maka pimpinannya dipercayakan kepada Angkatan Udara.
Pada Tanggal 2 September 1964 ditetapkan susunan Komando Siaga (KOGA) dengan panglimanya Laksamana (U) Omar Dhani. Wakil panglimanya ialah Laksamana (L) Mulyadi dan Brigjen A. Wiranatakusumah. Kepala stafnya Komodor (U) Leo Watimena.
Ternyata kemudian terjadi kekacauan. Dan saya dipanggil untuk menjadi Wakil Panglima dalam Komando bentukan baru.
Tanggal 28 Februari 1965, jadi setelah lima bulan kemudian setelah dibentuknya KOGA, Presiden mengubah KOGA itu dengan membentuk “Komando Mandala Siaga” (KOLAGA). Sekarang saya diangkat menjadi Wakil Panglima I KOLAGA tiu sementara panglimanya tetap bekas Panglima KOGA, Omar Dhani. Yang diangkat jadi Wakil Panglima II ialah Laksamana (L) Mulyadi. Kepala stafnya tetap Leo Watimena yang sudah jadi Laksda. (U). Ia didampingi oleh wakil Kepala Staf Brigjen A. Satari.
Saya ingat, waktu itu baru saja dijalankan operasi seperti pola “Trikora” dengan infiltrasi dan menerjunkan pasukan dan sebagainya dengan pesawat. Tetapi infiltrasi itu tidak ada yang berhasil, bahkan pesawatnya masuk laut. Dengan ini terbukti bahwa melaksanakan tugas serupa “Trikora” itu tidak segampang seperti dikira sementara orang.
Maka setelah saya diangkat jadi Wakil Panglima KOLAGA, saya mengadakan perjalanan inspeksi ke daerah Indonesia di bagian utara Kalimantan dan ke Sumatera Utara. Direncanakan dari daerah-daerah itu akan dilancarkan serangan terhadap Malaysia, memenuhi ketetapan Dwikora. Saya melihat berbagai hal yang tidak beres. Maka saya mencoba membenahi keadaan yang kusut itu. Tetapi karena kegiatan operasinya sedang berjalan, pola itu harus melanjut. Operasi infiltrasi dengan penerjunan udara sudah gagal, tidak mungkin dilanjutkan. Karena itu, saya ubah dengan pembentukan kantong-kantong lebih dulu, dengan menghubungi orang-orang Malaysia yang pro Republik. Jalan yang paling aman hanya dari punggung mereka. Dibangun pos komando gelap di Bangkok, dengan jalur logistik lewat laut Jakarta-Bangkok. Team Ali Murtopo, Ramly dan Benny Moerdani serta Sumendap yang ditugasi. Dan team ini pula yang ditugasi untuk mengadakan kontak-kontak dengan Tun Abdul Razak, Gazali dan Des Alwi dalam menghentikan konfrontasi, setelah G.30.S./PKI digagalkan.
Dalam pada itu, PKI terus meningkatkan agitasinya. Teriakan “Ganyang ini ! Ganyang itu! Ganyang setan Desa! Ganyang setan kota” tak henti-hentinya.
Di pelbagai tempat terjadi keributan. Di Kediri terjadi keributan, Seorang Kiai dan Imam dipukuli oleh orang-orang PKI. Di bandar Bersy, Sumatera Utara, Peltu Sudjono dikeroyok secara beramai-ramai oleh orang-orang PKI sampai meninggal.
PKI menuntut Nasakomisasi di segala bidang. Lalu PKI menuntut Pembentukan “Angkatan ke-V”, yaitu buruh dan tani dipersenjatai. Silsilahnya adalah, PM Chou En Lai menyarankan kepada PKI untuk membentuk “Angkatan ke-V”. Waktu itu kita mengenal empat angkatan disini, yakni Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Angkatan Kepolisian. Chou En Lai menjanjjikan 100.000 pucuk senjata ringan secara Cuma-Cuma untuk pembentukan Angkatan ke-V itu.
Pimpinan Angkatan Darat dengan tegas menolak tuntutan PKI itu. Begitu juga pimpinan Angkatan lainnya, kecuali pimpinan AURI, Omar Dhani menyetujui.
Politik luar negeri terus meluncur setelah putusnya hubungan diplomatik Jakarta-Kuala Lumpur. Tetapi persoalan “Malaysia” tidak berhenti sampai di sana. Sementara suntikan RRC masuk Indonesia, Malaysia berusaha untuk diterima menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.
Para diplomat kita di New York dicambuk untuk bekerja keras, supaya usaha Malaysia untuk bisa diterima sebagai anggota Dewan Keamanan PBB itu gagal. Maka gebrakan pun yng dilakukan di Jakarta diteruskan ke pusat PBB: “Jika PBB menerima Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan, Indonesia akan keluar, Indonesia akan meninggalkan PBB sekarang”.
Tetapi kondisi dan situasi PBB waktu itu menunjukkan kenyataan, menerima Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan.
Tak selang lama, Presiden Soekarno memutuskan, Indoensia keluar dari PBB, Menlu Subandrio dengan resmi menyatakan sikap Indonesia seperti demikian pada tanggal 1 januari 1965.
*
Lalu PKI menghebus-hembuskan issue tentang yang disebutnya “Dewan Jenderal” disertai dengan disiarkannya apa yang disebut “Document Gilchrist”. Gilchrist adalah Duta Besar Inggris yang waktu itu bertugas di Indonesia. Dan dokumen yang memakai namanya itu dikatakan ditemukan di rumah Bill Palmer, di Puncak, waktu rumah orang Amerika itu, importir film-film Amerika, di obrak abrik Pemuda Rakyat.
Aidit mengemukakan masalah yang disebutnya “Dewan Jenderal” itu. Subandrio membicarakannya. Sampai ke telinga Presiden Soekarno yang kemudian menanyakan kepada Pangab Letjen A. Yani. Presiden bertanya, “Apa benar ada Dewan Jenderal dalam Angkatan Darat yang katanya bertugas antara lain untuk melakukan penilaian-penilaian terhadap kebijaksanaan yang telah saya gariskan?”. Jenderal Yani menjawab, “Tidak benar, Pak. Yang ada ialah “Wanjakti” (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira Tinggi), sebagai panitia untuk mengurus jabatan dan kepangkatan Perwira-perwira Tinggi Angkatan Darat”.
Lalu issue tentang “Dewan Jenderal” itu dikembangkan, tentunya oleh Aidit, dengan menyebutkan, bahwa “ada jenderal-jenderal yang tidak loyal terhadap Pemimpin Besar Revolusi”. Dan akhirnya menyebutkan, bahwa “Dewan Jenderal akan mengadakan coup”.
Issue mengenai “Dewan Jenderal” itu mencapai tingkat yang berkembang sekitar bulan Mei, Juni dan Juli, serta mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September 1965.
Tanggal 4 Agustus 1964 Presiden jatuh pingsan dan muntah-muntah. Kejadian ini dupanya menimbulkan pikiran yang mendesak pada Aidit yang baru kembali dari perjalanannya ke Moskow dan Peking, untuk mengadakan tindakan, yakni merebut kekuasaan. Ia salah terka. Rupanya ia berfikir, lebih baik mendahului daripada didahului oleh Angkatan Darat, seperti yang dibayangkannya sendiri. Maka terjadilah malapetaka di negeri kita ini, berdasarkan pikiran-pikiran mereka yang jahat itu.
***
Penuturan Presiden Soeharto, dikutip langsung dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.


http://soeharto.co/tag/biografi-2

HERLINA KASIM - SI PENDING EMAS -







KISAH SEBUAH KORAN PALSU

 
Herlina dalam persiapan Operasi TRIKORA
 
 
Kini baru bisa diungkapkan :
 
INDONESIA pernah membuat koran palsu dalam masa konfrontasi. Ini dilakukan dalam rangka perang propaganda melawan Malaysia. "Karena koran dianggap alat propaganda 
yang paling baik," kata Herlina Kassim yang pernah menjadi "penanggungjawab" koran tersebut.  


Herlina Srikandi Trikora yang mendapat hadiah Pending Emas dari Presiden Soekarno 
karena menjadi wanita pertama yang mendarat di Irian Barat, agaknya dipilih karena beberapa alasan. Di samping keberaniannya, dia juga dianggap berpengalaman karena pernah menerbitkan koran Cendrawasih dalam perjuangan merebut Irian Barat.


Pada 1965 Herlina ditugasi Opsus (Operasi Khusus) menerbitkan surat kabar palsu yang akan disebarkan di semenanjung Malaya. Setelah melalui penelitian yang lama, dipilihlah Taguan Harjo, pelukis komik terkenal dari Medan yang saat itu bekerja di seksi penerbitan Staf Pempen (Pembangunan dan Penampungan) Daerah Militer II Bukit Barisan sebagai "pemimpin redaksi".

Pukul satu malam, rumah Taguan yang terletak di Jalan Ketam, Medan didatangi Herlina. "Saya masih gelap apa sebab saya dihubungi," kata Taguan, 45 tahun, yang kini bekerja sebagai pengawas sebuah penerbitan di Jakarta. Taguan akhirnya setuju dan setumpuk koran Malaysia kemudian ditinggalkan Herlina.

Bukan Soal Sulit Perundingan malam itu memutuskan untuk menerbitkan koran Berita Harian palsu. Koran itu dipilih karena di samping populer di Malaysia juga memakai huruf Latin hingga tidak sulit ditiru. Isi koran palsu yang "terbit" akhir September 1965 itu hampir seluruhnya propaganda anti pembentukan Malaysia. "Semuanya telah ditentukan oleh 'kantor pusat' di Jakarta," cerita Herlina pekan lalu.

Untuk pertama kali direncanakan mencetak dua kali penerbitan. Oplahnya 5 ribu eksemplar. Jumlah halamannya delapan, sedang yang aslinya dua belas. Pencetakannya secara rahasia, di malam hari dengan penjagaan ketat. Yang dipilih percetakan Imalon, Medan, sebuah perusahaan yang kurang menyolok karena kecilnya.  

Bahasa Melayu yang dipakai bukan soal sulit bagi Taguan. "Saya tinggal meniru gaya bahasa koran asli," kata Taguan. Yang repot: bagaimana membuat klise iklan. "Terpaksa kami jiplak bulat-bulat iklan koran asli," sambung Taguan. Bersama seorang temannya Taguan menulis berita. Banyak foto diambil-alih langsung dari Berita Harian asli. Tanpa istirahat, selama 36 jam koran tersebut dipersiapkan dan dicetak.  

Untuk tugasnya itu Taguan sendiri tidak menerima honor. Biaya cetak seingatnya menghabiskan Rp 30 juta uang lama. "Sebagian besar itu uang pribadi saya," kata Herlina. Begitu selelesai mencetak, segala klise dan sisa koran dibakar. "Semua serba rahasia sampai istri saya pun tidak tahu apa yang saya kerjakan," kata Taguan, ayah dari tiga orang anak ini. Urusan penyebaran menjadi tugas Herlina. Untuk mengangkutnya ke Malaysia dipakai enam buah tongkang ikan yang masing-masing berisi lima "nelayan". Saya sendiri ikut ke Pontian (sebuah pelabuhan kecil di Perak, Malaysia)," kisah Herlina. Kini 41 tahun. Waktu itu ia menyamar sebagai nelayan yang mengenakan celana panjang hitam, baju kain kasar dan topi lebar.

Di Malaysia telah siap kurir yang akan menyebarkan koran tersebut. Sebelum edisi yang kedua sempat terbit, Gerakan 30 September meletus. Penerbitan koran palsu dihentikan. "Di samping itu kita juga sudah memutuskan ingin berdamai dengan Malaysia," kata Herlina.  

(Tempo)

http://garudamiliter.blogspot.com/2012/05/kisah-sebuah-koran-palsu.html

 

SEPAK TERJANG PASUKAN KATAK TNI-AL di SINGAPURA - JOHOR





Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase. ”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura.

Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya. ”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura - Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor. Upacara penyambutan jenazah pahlawan Usman-Harun. (Foto: rhariprasetyo) Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia - Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia - Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”....(Iwan Santosa) (Kompas)

(Kompas)
http://garudamiliter.blogspot.com/2012/05/dwikora-sepak-terjang-pasukan-katak-tni.html

PERISTIWA KAPAL SRI SELANGOR 

 
Korps Komando ( KKO - AL )

Keberanian seseorang memang dapat timbul disaat-saat kritis, apalagi bila menyangkut penentuan hidup dan mati. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan perang.

Sekali peristiwa pada 24 Juli 1964 satu kelompok anggota KKO sedang melakukan tugas patroli rutin diperbatasan di perairan Riau menggunakan motorboat.

Kepala Kelompok adalah prajurit K. Suratno dengan tiga orang anggotanya yaitu prajurit-prajurit Wahadi, Riyono dan Muhani, berangkat dari Nongsa (Batam). Ditengah laut, mesin mengalami kerusakan dan sampai terbawa arus ke arah Singapura. Selama enam jam mereka mendayung melawan arus.

Hari makin gelap. Tiba-tiba pada pukul 19.15 dalm suasana remang-remang terlihat sebuah kapal. Prajurit-prajurit muda tersebut menyangka kapal kawan dari Bea Cukai. Kapal segera merapat hingga perahu dengan berpenumpang empat prajurit laut tersebut menempel dinding kapal perang tersebut.

Ternyata mereka keliru, karena kapal perang tersebut milik lawan (Kapal Sri Selangor jenis B.S). dari atas kapal terdengar teriakan :

" Awak Siapa?"
- KKo mau pulang
" Angkat tangan!!!"

Sementara lampu sorot kapal menyinari mereka serta menanti jawaban menyerah, karena tidak dapat berbuat lain. Keadaan sangat tidak menguntungkan dan sangat terjepit. Namun jawaban tanda menyerah tidak kunjung keluar. Bahkan secara serentak empat prajurit KKO itu menjawab dengan tembakan salvo kearah personel lawan yang sudah merasa bahwa kemenangan ditangannya, dalam jarak yang sangat dekat.

Tentu saja mereka sangat terkejut dan sambil membalas dengan tembakan, kapal melakukan manuver untuk menjauh agar dapat membalas tembakan. Untuk menebus kekalahan dan korban yang diderita, kapal Sri Selangor berusaha menerjang motorboat, hingga sampan kecil tersebut terbalik.

Namun keempat prajurit tersebut dengan tangkas melompat ke laut sebelum sampannya tertumbuk dan terbalik. Mereka dengan cerdik bersembunyi dibalik perahu yang tertelungkup. Mengira lawannya sudah tenggelam dan tewas, Sri Selangor meninggalkan perairan Indonesia.

Ternyata dalam pertempuran laut singkat tersebut, tiga prajurit berhasil selamat kecuali Kepala Kelompok K. Suratno gugur, hilang dan tidak muncul dipermukaan laut. Sungguh tindakan ini sangat berani dan mampu bertindak dalam waktu yang sangat kritis. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan Tugas.

Sumber : Majalah TSM (Teknologi Strategi Militer) Nomor 29 Tahun III/Nopember 1989
http://garudamiliter.blogspot.com/2012/05/peristiwa-kapal-sri-selangor.html

Selasa, 18 November 2014

SAS vs ABRI : Hampir matinya Benny Moerdani di Front Malaya


Kesulitan menangkal penyusupan pasukan lawan tidak hanya menimpa ABRI. Diseberang 
perbatasan Inggris juga mengalami hal serupa. Situasi tersebut menyebabkan pihak Inggris 
mendatangkan bantuan pasukan Gurkha dan tambahan pasukan dari Australia dan Selandia 
baru. Inggris tidak mungkin membangun pagar betis di sepanjang perbatasan yang 
panjangnya 1000 km. Mereka juga tak mampu menyebar pasukan hanya untuk menjaga 
wilayah berhutan lebat, penuh bukit dan lembah curam. Untuk mengatasi kesulitan alam 
tersebut kemudian dihadirkan satu skadron pasukan komando SAS. 
 
 
Benny Moerdani ( Alm )
 
 
SAS (Special Air Service) merupakan kesatuan komando elite Inggris. Dalam setiap 
gerakan,mereka selalu menggunakan empat anggota. Dengan kekuatan terbatas, SAS harus 
sanggup melakukan operasi militer, menyusup jauh di daerah lawan, tanpa perlu kembali ke 
pangkalan untuk jangkan waktu lama. SAS dikirim ke Kalimantan Utara setelah Mayor 
Jenderal Walter Walker, panglima pasukan Inggris, tidak mau menderita kerugian lebih besar.
Walker berpendapat, hanya SAS yang mampu menangkal penysusupan gerilyawan 
Indonesia. Tugas SAS mengacau wilayah pertahanan lawan dengan menyusup jauh, masuk 
ke wilayah Indonesia.
 
Profil Benny dalam seragam dan identitas TNKU serta sejumlah anggota TNI AD saat berada di perbatasan.
 
 
 
Dalam posisi sama - sama menentang Malaysia, Indonesia mendukung gerilyawan TNKU 
( Tentara Nasional Kalimantan Utara ). Pasukan untuk membantu TNKU memakai nama 
Detasemen Sukarelawan Malaya. Nantinya, mereka merupakan bagian Brigade Sukarelawan 
Bantuan Tempur Dwikora. Keanggotannya berbaur antara warga Malaya, sukarelawan 
Indonesia serta berbagai kesatuan ABRI. Pada bulan - bulan pertama konfrontasi, 
keterlibatan ABRI masih selalu di samarkan. Tetapi ketika konflik semakin meningkat, tak ada 
lagi alasan untuk bersembunyi. Secara terbuka ABRI mulai melatih, membekali dan ikut 
menyeberang perbatasan.
 
 
Kartu Idntitas TNKU Benny Moerdani
 Menghadap pasukan Inggris yang profesional dan terlatih baik, Indonesia mulai mengalami 
banyak korban, Buku ( Sejarah Operasi Operasi Gabungan dalam Rangka Dwikora ) 
menyebutkan: “Untuk mengurangi jumlah korban, Indonesia mulai memasukkan 
pasukan ABRI, sebab mereka lebih berpengalaman dalam bertempur. Sehingga pada pertempuran 
10 Juli 1964 di kampung Sakilkilo dan Batugar di Sabah, TNKU meraih kemenangan pertama. 
Dalam pertempuran satu peleton TNKU melawan dua peleton tentara patroli Inggris dan Gurkha,
TNKU berhasil menewaskan musuh 20 orang tanpa pihaknya menderita korban”.
 
Benny Moerdani dalam persiapan Operasi TRIKORA
 
 
Selama bertugas di perbatasan Kalimantan Utara, Benny harus menyamar. Dia bukan prajurit 
ABRI. Dia mendapat identitias baru sebagai sukarelawan. Seragammnya di ganti seragam 
TNKU yang berbeda warna dan modelnya dengan pakaian seragam ABRI. Dalam posisi 
sebagai anggota TNKU, namanya masih tetap Moerdani namun disamarkan sebagai warga 
Kalimantan Selatan, kelahiran Muarateweh, kota kecil ditepi Kapuas. Dengan jatidiri ini Benny 
memimpin pasukan gerilya menganggu pertahanan Inggris.  
 

Pada saat melakukan penyusupan ke seberang perbatasan, Benny nyaris tewas. 
Peristiwanya di catat rinci dalam laporan SAS. Laporan tersebut nantinya diketahui Benny, 
ketika tahun 1976 berkunjung ke Inggris. Disana dia sempat bertemu muka dengan kedua 
orang prajurit Inggris yang nyaris menembaknya dirinya.  
 
 
Insiden di atas terjadi pada sebuah sungai kecil di perbatasan Kalimantan Timur. Iring - 
iringan perahu gerilyawan Indonesia menyusuri sungai sementara anggota SAS telah siap 
menghadang. Benny, yang sedang berada di sampan paling depan, sudah muncul dalam 
sasaran tembak. Senapan telah diangkat, siap dibidikkan. Tetapi…. picu tidak jadi ditarik. 
 
Apa betul kamu bertugas disana waktu itu??” tanya Benny kepada kedua prajurit Inggris tersebut 
dalam pertemuan pribadi.Yes Sir,” jawab mereka serentak.Why didn't you pull the trigger??” desak Benny ingin tahu.


Salah seorang prajurit segera mengamit rekannya, yang langsung memberi jawaban, “He 
told me to wait for the Queen Elizabeth, Sir” Queen Elizabeth nama kapal penumpang 
terbesar milik Inggris. Maksud prajurit Inggris tersebut, mereka belum jadi menembak karena 
merasa, masih harus menunggu dulu kapal besar lain, yang mungkin mengikuti iring iringan 
sampan. 
 
 
Ternyata, tidak pernah ada perahu besar lewat. Dengan demikian, Benny justru bisa luput 
dari tembakan. 
 
Mendengar pernyataan bekas lawannya, Benny berkomentar, " If you had pulled the 
trigger, you know, you would’ve caused the highest ranking casualty on our side…. 
(Kau tahu, andaikan kau jadi menarik picu, waktu itu kamu akan berhasil membikin korban 
dengan pangkat tertinggi pada pasukan kami..)”
  
Dan dalam sebuah operasi penyergapan di pedalaman Kalimantan Timur, para gerilyawan 
TNKU pernah mencegat pasukan SAS. Dalam pertempuran sengit, seorang pasukan SAS 
tertawan, satu tertembak mati dan dua lainnya lari ke wilayah Sabah. Keberhasilan meringkus 
anggota SAS oleh Benny segera disampaikan kepada Achmad Yani.
 

Peristiwa tersebut sangat penting, sebab Indonesia kemudian akan punya bukti, pasukan 
Inggris melakukan penyusupan ke wilayah Indonesia. Bukti hidup tersebut akan dipakai 
sebagai bahan propaganda. Sayang, jalur transportasi menuju lokasi tempat tawanan berliku 
liku. ketika pasukan penjemput tiba, anggota SAS tersebut telah terlanjur tewas, akibat luka luka 
yang dia derita. Insiden tersebut dicatat Thomas Geraghty dalam buku ( Who dares 
Wins, The Story of the SAS 1950-1980 ) Hanya seorang prajurit SAS pernah ditawan musuh. 
Seorang prajurit luka parah sesudah disergap dan tak pernah diketemukan. Tetapi, pimpinan 
resimen mengetahui, berdasar pengakuan masyarakat suku terasing, dia akhirnya 
meninggal, sebelum berhasil dikorek pengakuannya”. 
 

Mayat anggota SAS yang tertawan akhirnya dikuburkan di tengah hutan Kalimantan, hanya 
(dog-tags) tali leher berisi nama dan nomor induk pemilik, berikut senjatanya di kirim ke 
Jakarta sebagai tanda bukti….
 

"Disadur dari Buku Benny, Tragedi Seorang Loyalis, Julius Pour "
 

( garudamiliter.blogspot.com/2012/02/sas-vs-abri-hampir-matinya-benny_20.html )